84,7 Triliun Rupiah: Kerugian Indonesia Akibat Gangguan Penglihatan Parah dan Kebutaan

Apakah Anda menyadari? Ternyata gangguan penglihatan parah atau kebutaan yang ada berdampak besar pada perekonomian Indonesia. Kerugian Indonesia akibat gangguan penglihatan parah dan kebutaan, bisa mencapai Rp. 84,7 Triliun setiap tahunnya.
Bagaimana bisa?

Sebelum membahas tentang kerugian Indonesia akibat gangguan penglihatan parah dan kebutaan, Klinik Mata KMU mengajak Anda semua menilik dampak atau pengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat terlebih dahulu.

“Betapa pentingnya Mata Untuk Kehidupan Kita”

Pengaruh Gangguan Penglihatan Terhadap Kualitas Hidup Masyarakat

Gangguan penglihatan hingga kebutaan sangat berpengaruh besar terhadap kualitas hidup masyarakatnya. Penglihatan yang terganggu, terlebih masyarakat yang mengalami kebutaan ini bisa dikatakan merugikan negara. Sebab, mereka kehilangan produktivitas dan meningkatkan beban ekonomi di Indonesia.

Masyarakat yang mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, memiliki dampak besar bagi perekonomian negara. Sebab, kualitas hidup seseorang akan berkurang karena tak lagi produktif. Hal-hal yang meliputi produktivitas, diantaranya: kemandirian, mobilitas, kesejahteraan emosional, kenyamanan & hubungan sosial, tidak didapatkan oleh penderita gangguan penglihataan dan mereka yang mengalami kebutaan.

Baca Juga:
3 Hal Ini Pengaruhi Harga Operasi Katarak

Dampak kebutaan dan gangguan penglihatan ini sama halnya dengan seseorang yang menderita penyakit berat seperti stroke, yang berkaitan dengan gejala depresi atau ketidakpuasan hidup. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi berdampak pada keluarga, pemberi perawatan, dan komunitas yang berkaitan dengan produktivitas, sehingga menyebabkan beban ekonomi negara.

Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014-2016 pada 15 provinsi menunjukkan prevalensi kebutaan di Indonesia sebesar 3%. Dimana, sebesar 1,6 juta orang mengalami kebutaan, dan 1,3 juta orang memiliki gangguan penglihatan yang parah.

Baca Juga:
46.610 Operasi Katarak KMU Bebaskan Masyarakat Indonesia Dari Belenggu Katarak

Penyebab utama kebutaan di Indonesia

Penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di Indonesia adalah Katarak (kekeruhan pada lensa mata), yakni 77,7% penyebab kebutaan di Indonesia. Prevalensi kebutaan akibat Katarak pada penduduk Indonesia usia 50 tahun ke atas ini sebesar 1,9%.

Beberapa orang juga mengalami kualitas penglihatan buruk karena menderita kelainan refraksi seperti mata minus (High Myopia), silinder, hingga rabun dekat, yang dimana dalam hal ini dapat disembuhkan dengan tindakan atau operasi Lasik.

Data dari JKN/BPJS Kesehatan, didapatkan jumlah operasi katarak yang dibutuhkan sekitar 300.000 per tahun. Sejauh ini, Cataract Surgical Rate (CSR) adalah angka operasi katarak per satu juta populasi per tahun masih minim. Dengan asumsi 70% penduduk Indonesia terdaftar di JKN/BPJS Kesehatan diperkirakan CSR di Indonesia saat ini ± 1.600, sementara target CSR sesuai Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030 adalah sebesar 2.000- 3.000 di tahun 2030.

Baca Juga:
5.851 Mata Kembali Melihat Melalui Operasi Katarak Gratis

Kebutaan di Indonesa Bisa Meningkat Pesat, Karena Apa?

Dalam penelitian observasional Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung (2020), diperkirakan 40% individu sehat dengan penglihatan yang buruk, terjadi dalam setiap 3 bulan sekali.
Sementara itu, laporan Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelompok usia > 55 tahun diperkirakan meningkat menjadi 61 juta pada tahun 2025. Sehingga, kemungkinan besar angka gangguan penglihatan di Indonesia juga bisa mengalami peningkatan yang signifikan.

Karena itu, dibutuhkan upaya percepatan dalam memenuhi target CSR, untuk menekan angka kebutaan dan gangguan penglihatan agar masyarakat lebih produktif, dan negara tidak mengalami banyak “kerugian” dalam berbagai sektor (Biaya pelayanan kesehatan, kebutuhan profesional , biaya perawatan, ekonomi masyarakat dan sosial). Operasi Katarak menjadi investasi berharga untuk Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, termasuk berpengaruh juga pada Gross Domestic Product (GDP).

Kerugian Indonesia Akibat Gangguan Penglihatan

Melihat dampak gangguan penglihatan dan kebutaan ini berpengaruh pada kualitas hidup & produktivitas seseorang. Maka akan terasa pua kerugian akibat gangguan penglihatan yang terjadi.

Semakin banyak individu yang mengalami ganguan penglihatan dan kebutaan, maka semakin berdampak lebih besar bagi negara. Dampak yang dihasilkan meliputi menurunnya produktivitas, diantaranya keterbatasan berikut: kemandirian, mobilitas, kesejahteraan emosional, kenyamanan & hubungan sosial, tidak didapatkan oleh penderita gangguan penglihataan dan mereka yang mengalami kebutaan.

Baca Juga:
Operasi Katarak Gratis Gresik: Klinik Mata KMU, Dinkes Gresik & Fatayat Ujungpangkah Bersinergi


Berdasar prevalensi gangguan penglihatan di Indonesia berdasarkan RAAB 2014 – 2016 yang ada di dalam tabel 1, menunjukkan bahwa 1.6 juta orang mengalami kebutaan dan 1.3 juta orang menderita gangguan penglihatan yang parah. Dalam penelitian observasional Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung (2020), bahwasanya orang dengan penglihatan normal memiliki nilai ekonomi sebesar 4.285.

Tabel 1. Prevalensi gangguan penglihatan di Indonesia berdasarkan RAAB 2014 – 2016

Implikasi fisik, dan khususnya psikososial dari gangguan penglihatan serta kebutaan sulit dikuantifikasi secara akurat dalam pemahaman moneter.

“Bahkan kerugian negara akibat gangguan penglihatan & kebutaan ini dapat mencapai Rp. 84,7 Triliun, dengan detail pada tabel 2”

Tabel 2. Dampak ekonomi Indonesia karena gangguan penglihatan dan kebutaan

Solusi Untuk Mempercepat Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan

Berdasarkan analisa dari penelitian ini, bahwasanya penyebab gangguan penglihatan yang parah dan penyebab kebutaan terbesar di Indonesia adalah Katarak. Hingga saat ini, belum ada penemuan akan obat dan terapi untuk penyembuhan Katarak. Saat ini, solusi satu-satunya pada Katarak adalah dengan operasi Katarak.

Upaya Pemerintah

lndonesia telah bergabung dengan program penanggulangan kebutaan Global Vision 2020 pada tahun 2000, kemudian membentuk koordinator nasional dan rencana aksi pada tahun 2005. Selanjutnya, pada tahun 2015 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merestrukturisasi koordinator nasional menjadi Komite Mata Nasional.

Kementerian Kesehatan bersama Komite Mata Nasional, PERDAMI, dan Non Government Organization (NGO) merancang 5 poin strategi untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan dengan cara berikut: 1. ldentifikasi besarnya permasalahan gangguan penglihatan melalui survey RAAB.
2. Analisis situasi dan pembuatan Plan of Action.
3. Pelatihan sumber daya manusia untuk kesehatan mata.
4. Penguatan sistem rujukan.
5. lntegrasi pelayanan kesehatan mata dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Selama ini, pemerintah menanggung biaya operasi Katarak untuk masyarakat yang memiliki JKN, dengan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 6,615 Juta.

Tabel 3.Dampak operasi katarak terhadap keuntungan ekonomi di Indonesia

Melalui tabel 3 ini, dapat diketahui bahwa operasi katarak sangat bermanfaat dan membawa keuntungan keuntungan ekonomi di Indonesia. Dengan menggunakan nilai median biaya operasi Katarak di Indonesia ini, operasi katarak terbukti menjadi intervensi yang sangat hemat biaya, dan tabel 4 menunjukkan efektivitas operasi Katarak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tabel 4. Efektivitas dari operasi katarak untuk pertumbuhan ekonomi

Baca Juga:
KMU Berikan Bantuan Operasi Katarak Gratis 500 Mata di Mojokerto

Mempercepat Upaya Penanggulangan Gangguan Penglihatan & Kebutaan

Penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan sektor kesehatan namun juga membutuhkan peran lintas sektor, organisasi profesi dan masyarakat, termasuk sektor swasta dan lembaga non pemerintah (NGO).

Kerugian Indonesia akibat gangguan penglihatan akan memberi dampak besar bagi seluruh lapisan masyarakat. Sebab itu, harus ada kerjasama antar berbagai pihak.

Bila berkaca pada data dari JKN/BPJS Kesehatan, didapatkan jumlah operasi katarak yang dibutuhkan sekitar 300.000 per tahun. Maka disimpilkan, bahwa Cataract Surgical Rate (CSR) adalah angka operasi katarak per satu juta populasi per tahun masih minim. Dengan asumsi 70% penduduk Indonesia terdaftar di JKN/BPJS Kesehatan diperkirakan CSR di Indonesia saat ini ± 1.600, sementara target CSR sesuai Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030 adalah sebesar 2.000- 3.000 di tahun 2030.

Karena itu, membutuhkan campur tangan atau pihak lain, salah satunya sector swasta di bidang kesehatan mata. Selain mengandalkan strategi pemerintah dan pemanfaatan JKN, maka sektor swasta dapat membantu percepatan penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan akibat Katarak ini dengan memberikan layanan operasi Katarak gratis.

Seperti yang dilakukan oleh KMU Eye Hospital & Clinic (bagian dari Eyelink Group) , melalui berbagai cabang pusat layanan kesehatan mata yang dimiliki, pusat layanan kesehatan yang bergerak mulai 2010 ini dapat membantu menekan angka kebutaan dan gangguan penglihatan di tengah masyarakat.

Operasi Katarak Phacoemulsificatioan gratis ini, dapat membantu masyarakat penderita Katarak dan belum memiliki JKN agar tetap mendapat akses dan fasilitas operasi Katarak gratis. Pada operasi Katarak gratis ini, pihak KMU Eye Hospital & Clinic juga membantu dalam melakukan upaya deteksi dini atau skrining.

Baca Juga:
Bupati Lamongan Resmikan Eyelink Foundation

Hal ini akan memberikan eksternalisasi positif. Eksternalitas positif yang dihasilkan adalah keuntungan bagi Indonesia, karena bisa mengejar target CSR dan mengembalikan dengan cepat produktivitas masyarakat melalui kualitas penglihatan yang baik dan bisa berdampak secara langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bila banyak pihak menyelenggarakan operasi Katarak Gratis, maka upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan ini juga akan lebih cepat teratasi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga semakin baik.

“Jelas Lebih Jelas”

Tonton juga info & tips kesehatan mata lainnya:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top